Power Conflict And Democracy: Analysis Framework

Power Conflict And Democracy: Analysis Framework

Dian Iskandar

Konsep representasi seperti kebebasan, equality dan demokrasi telah banyak dikembangkan dan banyaknya diskursus oleh political scientist, seperti Olle Törnquist yang menulis artikel dengan judul “Power Conflict And Democracy: Analysis Framework”. Dalam artikel ini Törnquist memfokuskan pada representasi, namun sebelum itu ia menjelaskan satu persatu hal yang penting sebelum sampai pada studinya tentang representasi. Pada awalnya, ini merupakan bentuk kritikan terhadap penjelasan penjelasan konvensional dalam masalah demokrasi yang ada, itulah sebabnya Törnquist menganggap adanya kekeliruan secara empiric dan secara teori terlalu sempit dan static. Kedua penjelasan itu tidak mampu mengkonseptualisasi masalah dan menimbulkan depolitisasi serta hanya mendefinisikan demokrasi sebagai kebebasan dan pemilu yang adil saja.

Oleh karena itu, Törnquist merasa ini merupakan suatu tantangan awal analitis program PCD untuk mengembangkan kerangka kerja yang memungkinkan untuk analisis empiris masalah dan pilihan politik demokratis yang mendukung hak-hak berdasarkan social democracy, perdamaian dan pembangunan dalam prespektif teoris dan komparatif. Dalam artikel ini Törnquist membagi dalam tiga tahap. Pertama, tahap analisis yang komprehensif dimasing-masing konteks besar kekuasaan, konflik dan demokrasi yang lokusnya adalah Srilanka dan Indonesia. Dalam tahapan ini sudah banyak pengetahuan yang tersedia, untuk Indonesia ada Demos survey (Priyono et.al. 2007, Demos 2008, Törnquist 2008) sedangkan Srilanka, State of Democracy in South Asia (CSDS 2007). Kedua, dalam tahapan ini mencakup dua langkah. Salah satunya adalah mengidentifikasi dalam kerangka umum masalah yang paling penting yang berhubungan dengan depolitisasi, defisit representasi demokratis dan prospek popular representasi, serta transformasi demokrasi konflik, yang semuanya dianggap sebagai penyebab utama krisis demokratisasi di global south. Langkah lain yang dilakukan adalah mereview semua pengetahuan yang ada serta studi tambahan tertentu. Pada tahap ini berfokus pada representasi demokrasi, dimana Törnquist meminjam konsep representasi oleh Hanna Fenichel Pitkin yang membagi representasi ke dalam tiga bentuk yaitu, Representasi substantif (substantive representation) adalah ketika yang mewakili (representative) sungguh-sungguh bertindak untuk (acts for) yang diwakilinya (the represented). Sementara itu representasi deskriptif (descriptive representation) terjadi saat yang mewakili sungguh mewakili secara serupa (objectively similar) dengan yang diwakili.

Sedangkan representasi simbolik (symbolic representation) terjadi ketika yang mewakili di-perceived oleh yang diwakili (the represented) sebagai mewakili mereka namun oleh karena kesamaan kultur dan identitas. Dalam artikel Power Conflict and Democracy: Analysis Framework ini, Törnquist juga menggunakan dua pendekatan umum yaitu the chain of- popular-sovereignty approach. fokus pada politik formal diatur, pemerintah dan administrasi publik dan Direct democracy approach, menekankan pengaturan informal dan kebutuhan untuk partisipasi alternatif melalui gerakan rakyat dan kelompok-kelompok lobi serta aksi masyarakat. Törnquist membagi tiga pilar dasar dari kerangka kerja ini antara lain: people/demos, public affair, dan intermediary ways yang nantinya diharapkan adanya pembuatan kebijakan (input) dan implementasi (output), adanya otoritas dengan mandate dan akuntabilitas dengan transparansi dan responsive. Törnquist mengatakan bahwa isi yang sebenarnya dari apa yang jadi diputuskan dan dilaksanakan adalah karena kehendak people/demos tetapi harus mendukung prinsip-prinsip demokrasi. Untuk menjelaskan hubungan tiga pilar yang disampaikan tadi, ia membuat suatu skema dan skema yang disampaikan Törnquist tersebut dapat terlihat bahwa dalam konteks political representative yang diharapkan input ke demokrasi adanya urusan publik terkait dengan keputusan atas dasar kesetaraan politik dan Sisi output demokrasi Popular control urusan publik yang berkaitan dengan pelaksanaan keputusan politik berdasarkan ketidakberpihakan. Tahap ketiga yang dilakukan adalah terus memperbaharui dan memperluas analisis komprehensif awal kekuasaan, konflik dan demokrasi dalam setiap konteks dengan menggambarkan pada hasil dari studi tertentu.

General Conceptual framework yang dikemukakan oleh Olle Törnquist ini dapat dijadikan rujukan untuk melihat bagaimana hubungan representasi yang dilakukan oleh mediator yang oleh Törnquist dibagi dalam tiga kelompok besar Civic Society, Political Society, Informal Leaders dengan hubungannya ke public affair dan ke people/demos. Democratic representation ini diharapkan dalam politik adanya kesamaan dalam pembuatan kebijakan yang dijadikan sebagai input dan pelaksanaan yang adil atau tidak berihak sebagai outputnya. Kemudian diharapkan adanya kewenangan dengan mandate dan terakhir adanya akuntabilitas dengan transparansi dan responsive. Dalam tulisan Törnquist mengharapkan adanya Democratic representation dengan kewenangan melalui mandat namun ia tidak menjelaskan mandate seperti apa yang dibutuhkan serta pola hubungan seperti apa untuk melakukan fungsi representasi yang dilaksanakan oleh tiga kelompok besar mediator tadi dan juga tidak menjelaskan siapa dari ketiga kelompok mediator itu yang powerful. Mengenai mandat ini ada dua teori yang berkembangan yaitu free mandate theory dan imperative mandate theory. Teori mandate pada prinsipnya menunjukan bahwa wakil dilihat sebagai penerima mandate untuk merealisasikan kekuasaan terwakil dalam proses kehidupan politik, oleh karena itu wakil hendaklah selalu memberikan pandangan, bertindak dan bersikap sejalan dengan mandate dalam tugasnya. Pandangan wakil secara pribadi tidak diperkenankan dipergunakan dalam kualifikasinya sebagai wakil. Sementara teori kebebasan menjelaskan bahwa wakil dianggap perlu merumuskan sikap dan pandangannya tentang masalah yang dihadapi tanpa terkait secara ketat pada terwakil. Selain dua hal tersebut ada empat pola hubungan lain yang dikemukakan oleh Gilbert Abcarian yaitu: pertama, si wakil bertindak sebagai trustee, bebas bertindak atau mengambil keputusan menurut pertimbangannya sendiri tanpa perlu berkonsultasi dengan yang diwakili. Kedua, si wakil bertindak sebagai delegate atau duta dari yang diwakilinya. Dalam melaksanakan tugasnya, si wakil selalu mengikuti instruksi dan petunjuk dari yang diwakilinya. Ketiga, si wakil bertindak sebagai ‘politico’, kadang-kadang bertindak sebagai trustee dan adakalanya bertindak sebagai delegate. Keempat, si wakil bertindak sebagai ‘partisan’, bertindak sesuai dengan keinginan atau program dari partai (organisasi) si wakil. Dalam hal fungsi representasi Törnquist juga tidak secara gamblang menyebutkan apa fungsi dari representasi itu sendiri. Secara umum ada tiga fungsi representasi yaitu: Pertama, popular control: to provide for degree of popular control over the government. Kedua, leadership: to provide for leadership and responsibility in decision making. Ketiga, system maintenance: to contribute towards the maintenance nd smooth running of political system by enlisting the support of citizens. Selain itu adanya fungsi spesifik yaitu: responsiveness, accountability, peaceful change, leadership, responsibility, legitimation, consent, dan relief of pressure. Selain Olle Törnquist ada banyak political scientist yang menawarkan tentang representasi seperti M. Cotta yang mengatakan bahwa elemen kunci dari representasi adalah hubungan antara yang diwakili dan agen perwakilan, objek representasi adalah pendapat dan kepentingan serta terjadi dalam konteks politik. M. cotta ini berbicara tentang dimensi of relationship. Gambar dibawah menunjukan dimensi of relationship dari politik representasi. Skema ini merupakan salah satu bentuk hubungan yang disampaikan Cotta, tapi ia juga berpendapat bahwa hubungan antar komponen itu tidak harus seperti itu karena masing-masing komponen itu bermain dengan interest masing-masing. Misalnya kelompok social langsung berhubungan dengan parlemen tanpa terlebih dahulu melewati partai politik dan pemilu. Cotta juga berpendapat bahwa representasi tidak ada gunanya kalau dalam logic Weberrian democratic. Loewenberg and Patterson dalam comparing legislative mengatakan bahwa boleh ada banyak mediator representasi tapi yang paling mempunyai kekuatan penuh dalam politik dan kebijakan publik adalah legislative. Terkait dengan fungsinya ada dua yaitu: Foci of representation dan Components of Responsiveness. Untuk Foci of representation berkaitan dengan “siapa”. Fungsi ini menjelaskan siapa yang mengikat perwakilannya atau merepresentasikan siapa. Ini tidak jauh berbeda dengan representasi yang digunakan oleh Törnquist hanya saja Loewenberg and Patterson tidak membagi dalam klasifikasi tertentu, seperti Geografis konstituen, konstituen Partai, konstituen Lainnya (kelompok etnis, kelas sosial, jenis kelamin, kelompok kepentingan). Sedangkan Components of Responsiveness, berkaitan dengan “apa”, apa yang hendak direspon oleh perwakilan. Seperti merespon kebijakan, pelayanan, barang publik dan simbolis responsive. Dari apa yang dijabarkan diatas dapat disimpulkan bahwa terdapat banyaknya konsep representation yang dikemukan oleh ahli-ahli politik namun yang jadi benang merahnya adalah terdapatnya pola hubungan yang mewakili dan diwakili yang diharapkan agent representasi yang melakukan representasi tersebut mampu menjadi sarana agregasi artikulasi bagi yang diwakili.

Daftar Literature: H. Birch. Representation. Pall Mall Perss. London.1971 Hanna F Pitkin, The Concept Of Representation. Berkeley and Los Angeles: California university perss. 1967 Seminar Internasional, Dinamika Politik Local Di Indonesia: Representasi Epntingan Rakyat Paada Pemilu Legislative 2009.. Salatiga 2009 Kusnu Goesniadhie S. Demokrasi Dalam Konsep Dan Praktek. www kgsc.wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s