Efek Amerikanisasi Kampanye

Efek Amerikanisasi Kampanye

Dian Iskandar

Kian meningkatnya keterlibatan para electioneer profesional dari luar partai (Thurber dan Nelson, 2000), dan itu secara tidak langsung  semakin menggeser peran para “amatir” dari kalangan kader partai sendiri (Johnson, 2000).

Amerikanisasi menumbuh suburkan lembaga survey yang akan menimbulkan dua efek yaitu ada dua efek survei yang sengaja atau tidak sengaja kerap tak terhindarkan. Keduanya adalah bandwagon effect dan underdog effect. Dalam Controlling Pre  Election Poll and Quick Count in Contemporary Indonesia, Agus Trihartono memaparkan, band wagon effect merupakan sebuah kekuatan di mana survei di andaikan bisa memengaruhi pemilih. Maksudnya, calon pemilih akan mengubah preferensi pilihannya, setelah terekspose hasil survei pra pemilihan, dengan mendukung yang leading dalam survei itu.

Keadaan itu juga mampu menggiring pemilih mengambang untuk mendukung kandidat yang menang dalam survei itu,”. Adapun underdog effect, adalah sebuah kekuatan yang berlawanan dengan bandwagon effect. underdog effect (Marsh, 1984). Informasi hasil survei tentang pemilih sebelum pemilu mendorong pemilih untuk bersimpati pada yang diopinikan akan kalah sehingga partai atau calon tersebut kemudian mendapatkan dukungan dan akhirnya partai atau calon tersebut menang dalam pemilu.
Berikutnya penggunaan media massa dalam kampanye akan menimbulkan teknik pemasaran politik dengan mengemas citra atau yang dikenal sebagai politik pencitraan. Apa yang sedang berlangsung adalah bersimbiosisnya strategi politik dan teknologi pencitraan atau “imagologi” yang di dalamnya citra tentang tokoh dan partai dikemas dalam rangka mempengaruhi persepsi, emosi, perasaan, kesadaran, dan opini publik sehingga mereka dapat digiring ke sebuah preferensi, pilihan, dan keputusan politik tertentu. Imagologi politik telah menggiring wacana politik ke arah “simulakra politik” Gilles Deleuze (1990) Dalam Logics of Sense menjelaskan “simulakra” sebagai tanda atau simbol yang dibangun bukan oleh keserupaan atau kesamaan, tetapi ketidaksamaan, penyimpangan, atau perversi dari bentuk asli. Jadi, simulakra dibangun oleh prinsip diskontinuitas, keterputusan, atau perbedaan dari yang fakta atau dari realitas. Simulakra politik  adalah penggunaan tanda dan citra dalam politik sedemikian rupa, yang di dalamnya citra telah terputus dari realitas yang direpresentasikan sehingga di dalamnya bercampur aduk antara yang asli atau palsu, kenyataan atau fatamorgana, citra atau realitas yang menggiring dunia politik ke arah penopengan realitas.
Ada beberapa logika simulakra politik: Pertama, logika citra yang di dalamnya politik amat bergantung pada keberadaan citra, teknologi pencitraan, dan produksi citra dalam rangka menyampaikan ide, gagasan, dan tema politik sedemikian rupa, sehingga citra itu menjadi utama dan pendefinisi realitas politik. Inilah partai politik yang menampilkan citra “partai rakyat kecil” untuk menyembunyikan realitas ketidakpeduliannya terhadap rakyat kecil.
Kedua, logika tontonan yang di dalamnya “produksi realitas politik” kini harus disertai “produksi tontonan politik” yaitu penciptaan berbagai event, media tontonan dan hiburan, yang di dalamnya politik bersimbiosis dengan berbagai teknik hiburan, musik, tari, lawak, teater. Ketiga, logika diskontinuitas, yaitu “ketercabutan” sebuah citra politik dari realitas politik sehingga di dalamnya citra membentuk realitas kedua, yang mempunyai logikanya sendiri, yang pada titik tertentu dapat menetralisir bahkan “membunuh” realitas politik dan menggiring “kematian politik”. Inilah partai yang telah tercabut dari massa yang diwakilinya dan hidup di dalam dunia fantasinya sendiri.
Keempat, logika perversitas yang di dalamnya tanda dan citra politik digunakan para politisi atau partai politik dalam rangka memainkan peran “seakan-akan” atau “seolah-olah”. Ia adalah sebuah cara untuk berpretensi, membuat kamuflase, menampilkan fatamorgana, yaitu tindakan berpretensi seakan-akan sesuatu itu nyata, padahal tidak; seolah-olah sebuah partai punya “wajah baru”, padahal status quo. Kelima, logika disinformasi (logics of disinformation) yang di dalamnya penggunaan tanda dan citra-citra politik menggiring publik bukan ke arah informasi bermakna, tetapi ke arah disinformasi, yaitu iring-iringan ungkapan, citra, dan tontonan politik yang berisikan informasi menyesatkan yang menciptakan kesadaran palsu (false consciousness) di kalangan masyarakat politik. Keenam, logika skizofrenia (logics of schizophrenia) yaitu kondisi keterputusan (break) tanda-tanda dari tanda dan makna-makna sebelumnya yang menciptakan semacam inkonsistensi dan diskontinuitas antara satu ungkapan dan ungkapan politik lainnya sehingga menyebabkan kekacauan (chaos) pada tingkat tanda, yaitu lenyapnya batas-batas yang membedakan antara benar atau salah, asli atau palsu, fantasi atau realitas.
Dari apa yang dipaparkan diatas, gaya kampanye tipikal amerika dengan actor actor dibalik layar ini akan memberikan dampak kepada para pemilih. Melihat dari konsep konsep diatas dan menurunkannya ke dalam konteks, maka akan terdapat dua kecenderungan yang berasal dari penggunaan kampanye bergaya amerika ini. Kecenderungan pertama yaitu terciptanya jarak antara kontestan (baca : partai politik atau individual candidat) dengan grassroot yang semakin besar disebabkan oleh penggunaan media massa sebagai sarana komunikasi dan penyampaian pesan politik sehingga semakin dianggap kurang efektifnya gaya kampanye tradisional atau konvensional yang lebih mendasarkan diri pada pendekatan grassroot seperti  pawai massa, apel akbar, dan bentuk-bentuk pengerahan massa lainnya untuk menyampaikan pesan politik. Dengan kata lain, tidak adanya atau semakin lunturnya rasa kedekatan antara konstituen dengan kontestan (baca : partai politik atau individual candidat).

Kecenderungan kedua yaitu semakin banyaknya voters menjadi lebih rasional dalam menentukan pilihan disebabkan oleh  semakin well inform nya para voters, hal tersebut dipicu oleh tingginya aksestabilitas voters terhadap media massa dan berbagai jenis dan bentuknya, informasi yang  dimiliki oleh voters pun semakin banyak serta intensnya informasi akan mempengaruhi sikap voter, yang pada akhirnya semakin banyaknya voters menjadi lebih rasional dalam memilih, walaupun rasional yang positive maunpun negative, misalnya jika seseorang yang suka korupsi akan memilih kontestan yang menurutnya akan korupsi juga hal ini terjadi berdasarkan  informasi yang dimiliki tentang kontestan tersebut dan berdasarkan informasilah meka ia akan menentukan sikapnya. Sedangkan pandangan positive yaitu pemilih akan semakin cerdas dalam menentukan pilihannya atau bahkan mengambil langkah untuk tidak memberikan suaranya pada saat pemilihan.

Referensi
Abdul Hakim “Menggugat Survey Politik”
Dan Nimmo, komunikasi politik: komunikator,pesan dan media
Dedy N Hidayat . 2004. “Amerikanisasi Industri Kampanye Pemilu”. http://www.pergerakankebangsaan.org
Dalton. citizen politic.
Fenomena Quick Count Dan Komunikasi Politik:Antara Persepsi Politik Dan Demokratisasi Rasional”
Firmanzah. 2010. Persaingan, Legitimasi Kekuasaan, Dan Marketing Politik. Yayasan Obor Indonesia.:Jakarta
Saiful Mujani, R. William Liddle, Kusrido Ambardi Kuasa rakyat  hal 435Lebih lanjut lihat antaranews.com “Iklan Pengaruhi Perilaku Pemilih”
saiful munjani. Survey Dan Perilaku Pemilih. http://www.kompas.com
Saiful Mujani dan R. William Liddle. “Personalities, Parties, and Voters”. Journal of Democracy
Yasraf Amir Piliang. Simulacra Politik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s