PARTAI, TOKOH ALTERNATIVE, DAN PEMILIH

PARTAI, TOKOH ALTERNATIVE, DAN PEMILIH

Dian Iskandar

Pemilihan presiden 2014 kurang dari dua tahun lagi, namun belum ada nama-nama calon yang kuat untuk memimpin Negara yang besar ini. Istilah 4 L “loe lagi – loe lagi” pun muncul kepermukaan, hal ini dipicu oleh muka – muka lama yang itu – itu saja, kemungkinan akan bertarung lagi untuk memperebutkan kursi RI 1. Kejenuhan dari pemilih pun muncul dibuktikan dengan serangkaian survey nasional yang dilakukan LSI sepanjang februari-oktober 2012 yang menunjukan belum adanya tokoh dengan dukungan yang kuat, yakni yang mereka akan pilih secara spontan (top of mind) dengan jumlah suara rata-rata di atas 10%. Total suara yang diperoleh calon yang masuk dalam 10 besar rata-ratanya hanya sekitar 33%. Lebih dari 60% pemilih belum menentukan pilihan.

Krisis capreskah kita? Merupakan pertanyaan yang menarik. Krisis hanya terjadi dalam tubuh partai politik, karena tidak mampu atau gagal memproduksi, regenerasi dan merekrut kader yang dianggap layak untuk menjadi pemimpin – pemimpin baru. Tapi tidak dengan di luar tubuh partai. Seperti yang kita ketahui, partai politik itu mempunyai mekanisme tersendiri untuk memilih siapa calon presiden yang akan diusung. Namun adanya kecenderungan yang terjadi dalam dunia perpolitikan Indonesia saat ini, yaitu ketua umum sebuah partai hampir bisa dipastikan akan menjadi calon presiden dari partai yang bersangkutan, dan kurang mengakomodasi kalangan kader partai yang potensial untuk maju sebagai capres walaupun posisinya di partai bukan diposisi puncak atau utama. Sudah seharusnya partai politik melakukan terobosan perubahan dalam mekanisme perekrutan yang lebih terbuka, dengan membuka keran bagi tokoh di luar parpol yang dinilai memiliki kualitas yang bagus.

Apa yang dilakukan oleh LSI mencoba memberikan gambaran tokoh – tokoh yang dinilai bisa menjadi kandidat alternative dengan menggunakan dimensi dan indicator yang berbeda dari survey biasanya yang hanya mengukur popularitas tokoh. LSI sendiri menggunakan tiga dimensi untuk mengukur kualitas tokoh, yaitu : pertama, kapabilitas (competence) termasuk didalamnya pintar, berwawasan luas, punya visi untuk jabatannya diembannya, dan lain-lain ; get thing done, bisa memimpin, tegas, decisive, berani mengambil resiko. Kedua, integritas didalamnya terdapat bermoral, satu dalam kata dan perbuatan, bersih dari cacat moral, etik dan hokum. Ketiga, mampu merangkul dan berdiri di atas berbagai kelompok kepentingan. Indicator yang digunakan yaitu; dinilai bisa dipercaya, tidak pernah melakukan atau diopinikan KKN, tidak pernah melakukan atau diopinikan melakukan tindakan criminal, diyakini mampu memimpin Negara dan dipercayai mampu berdiri diatas semua kelompok atau golongan yang berbeda. Dengan dimensi dan indicator yang sama, survey dilakukan pada opinion leader dan massa pemilih nasional . Dan hasilnya apa yang dibayangkan oleh opinion leader dan massa pemilih nasional tidak banyak berbeda, integritas, kapabilitas dan akseptabilitas tokoh menjadi sangat penting.

Dari hasil survey yang dilakukan LSI tersebut mengungkapkan ada banyak tokoh alternative diluar bingkai partai politik yang memiliki kualitas personal yang baik, hanya saja belum popular dikalangan pemilih. Apa yang dilakukan LSI tersebut dapat dibaca sebagai respon politik yang melihat regenerasi polirik di Indonesia tidak berjalan secara demokratis, berkelanjutan, dan hanya melanggengkan dominasi politik bebebrapa elit politik saja. Sudah seharusnya partai politik menjadi lebih cerdas dengan memanfaatkan temuan – temuan yang ditemukan oleh LSI atau lembaga survey lainnya, dengan membuka kesempatan dari tokoh dari luar, dan di sisi lain tokoh – tokoh alternative yang dianggap memiliki kualitas personal tersebut harus bernegosiasi dengan partai, kalau tidak, akan susah untuk didorong mencalonkan diri, karena seperti yang kita ketahui, untuk mencalonkan diri menjadi calon presiden tidak bisa secara independen. Serta undang – undang pilpres yang mengatur syarat pencalonan capres harus diajukan oleh partai politik yang memiliki 20% kursi di parlemen atau 25% suara nasional. dengan kata lain, maun tidak mau harus melalui kendaraan partai politik. jika mempertimbangkan hasil survey tersebut, Partai politik memiki peran untuk meningkatkan popularitas tokoh tersebut dengan “bombardier” informasi (track record kinerja) melalui media, dalam artian mensosialisasikan secara massif hingga tokoh alternative yang diusung partai tersebut dikenal luas, maka mereka akan lebih potensial memiliki daya tarik tersendiri bagi pemilih dan akan membuat pilihan politik pemilih menjadi lebih berkualitas.

Dengan adanya dimensi dan indicator yang disebarluaskan serta nama tokoh –tokoh alternative yang dipublikasikan oleh LSI, dan adanya aksestability pemilih yang tinggi dan luas terhadap informasi politik, maka dengan sendirinya para pemegang hak suara bisa mengetahui kualitas tokoh yang akan maju sebagai calon presiden 2014 yang mendatang. bisa dikatakan secara tidak langsung akan mendidik pemilih agar ketika pemilihan, pemilih mempunyai panduan untuk dia menentukan pilihan. Dan secara tidak langsung telah mengajak pemilih untuk menemukan orang-orang yang memenuhi criteria atau indicator tersebut. dengan kata lain, menuntun pemilih menjadi rasional dalam menentukan dan memberikan hak suara pada saat pesta demokrasi untuk menentukan pemimpin Negara tercinta ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s