Review “MASCULINE DOMINATION”

Review “MASCULINE DOMINATION”

PIERRE BOURDIEU

oleh : DIAN ISKANDAR

Dalam buku dominasi maskulin ini, Bourdieu mencoba menyampaikan pendekatan baru untuk meneliti dan berteori mengenai ketidaksetaraan gender ini. Ia berusaha untuk menyelesaikan bahkan mengoreksi apa yang telah ia sebut dengan “paradox doxa” dengan mencoba melihat mengapa tatanan simbolik “symbolic order” sangat di hormati dan dihargai, bahkan oleh orang-orang yang paling dirugikan karena  adanya tatanan tersebut.

Dominasi maskulin begitu tertanam dalam praktek sosial kita dan alam bawah sadar kita, bahkan kita hampir tidak merasakannya, dan mengapa laki-laki dan wanita pada umumnya menerima tatanan simbolik yang membuat perbedaan gender secara alami dan abadi, dan dengan demikian membenarkan dominasi laki-laki atas wanita. Bourdieu menganalisis dominasi maskulin ini sebagai contoh kekerasan simbolik, kekerasan yang tidak terlihat, yang melekat melalui praktek kehidupan social sehari-hari.

Untuk menjelaskan secara umum yang tampak dari perbedaan gender tersebut, Bourdiue menyarankan kepada ilmuwan sosial untuk mengalihkan pekerjaan kearah  mengidentifikasi atau menyelidiki mekanisme sejarah yang mencapai  “dehistoricization” dan “eternalization” penataan dikotomis perbedaan seksual. Dan secara khusus, ia berpendapat bahwa peran lembaga dalam mereproduksi ketidaksetaraan gender perlu dipahami secara lebih baik. Walaupun banyak yang telah dilakukan pada peran keluarga dalam mereproduksi asimetri gender, analisis kelembagaan harus diperluas untuk lebih menangkap peran agama, sekolah, dan negara dalam mereproduksi dominasi maskulin.

Bourdieu mengacu pada data etnografi yang dimilikinya di Berber, Kabylia untuk menganalisis sebuah masyarakat yang benar-benar terjadi oleh apa yang dia sebut dengan “prinsip androsentris.” di kalangan kabyle tersebut, pembagian dan ketimpangan sexual muncul benar-benar secara alami dan diterima begitu saja dan juga  berfungsi sebagai prinsip pengorganisasian dalam masyarakat. Hal ini hadir baik dalam keadaan obyektif, misalnya bagaimana rumah orang kabyle diatur dan negara diwujudkan dalam bentuk tubuh laki-laki dan wanita dan bisa dikatakan dalam habitus gender. Kesesuaian antara kedua aspek dari pembagian seksual yang objektifikasi dalam tatanan fisik dan sosial, dan perwujudan dalam disposisi gender. Adanya legitimasi gagasan perbedaan gender dan ketidaksetaraan karena kedua hal tersebut  tumbuh secara alami dan kekal.

Anggota masyarakat dari kabylia tidak harus disengaja dan disosialisasikan untuk berpikir dan bertindak seperti laki-laki dan wanita, melainkan timbul karena habitus gender mereka yang sebagian besar secara otomatis disebabkan oleh efek agentless dari tatanan fisik dan sosial yang sepenuhnya diatur sesuai dengan prinsip androsentris.”

Bourdieu mengusulkan bahwa ini sama dengan “lingkaran kausalitas ” yang  sedang bekerja dalam masyarakat modern. Tujuan struktur dari ruang social membentuk disposisi individu, dan orang-orang bertindak dan memilih atas dasar disposisi tersebut yang pada gilirannya memperkuat tatanan sosial gender tersebut. Selanjutnya, ia menjelaskan bahwa perbedaan gender dan ketidaksetaraan berbeda secara dramatis dari pendekatan yang menjelaskan tentang  penindasan gender sebagai permainan kekuasaan secara sadar atau melihat perbedaan gender sebagai hasil dari strategi, aktivitas performatif.

            Bourdieu mengakui bahwa perubahan signifikan telah terjadi di tengah gelombang kedua feminisme. Dalam masyarakat modern, dominasi maskulin telah mengalami less transparansi yang diambil dan diberikan (taken and granted) peningkatan kualitas. Bourdieu berpendapat bahwa faktor yang paling penting yang berkontribusi pada perubahan ini adalah modifikasi dalam sistem pendidikan dan dalam struktur keluarga. Analisis akhir, ia melihat bahwa adanya kemajuan wanita di beberapa daerah, namun masih adanya ketidaksetaraan posisi antara laki-laki dan wanita. Dan bourdieu juga menyatakan bahwa kelonggaran dari “hukum dominasi maskulin” hanya ditemukan dalam ranah cinta. Ia berargumen bahwa mencintai memiliki kapasitas untuk menghindari kekerasan simbolik dominasi maskulin melalui hubungan timbal balik, saling pengakuan, dan ketidakberpihakan serta kepercayaan.

Klaim Bourdie mengenai sangat penting untuk menyelidiki mekanisme sejarah untuk dehistoricization / eternalization penataan dikotomis menurut jenis kelamin, tetapi ia benar-benar menghindari setiap analisis sejarah sistematis dan tidak memiliki data historis yang lengkap. Selain itu, Penjelasan Bourdieu tidak bisa di generalisasi karena apa yang ia sampaikan tidak menyentuh keadaan adat minangkabau yang matriarki, dan bisa dikatakan bahwa dominasi maskulin tidak berlaku disana. Dari dulu, wanita sangat diperhitungkan baik dalam keluarga maupun lingkungan masyarakat adat. Bukan seperti wanita yang ada di Kabylia, yang hanya di dalam dan terdominasi. Lebih dari itu semua, Di minangkabau, wanita diberikan keistimewaan, misalnya keturunan, anak mewarisi suku ibunya. Selain itu masalah pewarisan harta, wanita mendapatkan harta yang lebih banyak dari pada laki-laki. Walaupun islam telah masuk dan berbaur dengan adat, tetap saja pembagian harta warisan lebih besar kepada wanita. Bukan itu saja, dalam pengambilan keputusan, suara wanita didengarkan. Ini membuktikan bahwa apa yang disampaikan Bourdieu tidak dapat diterima secara universal, tapi setidaknya sudah memberikan gambaran bagaimana dominasi maskulin itu terjadi pada budaya patriarki, dimana kebanyakan orang menerima begitu saja dan terjadi secara alami kekerasan simbolik yang terjadi menimbulkan efek terhadap munculnya dominasi maskulin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s