Ancaman di Halaman Depan Negara Indonesia

DIAN ISKANDAR

Ancaman di Halaman Depan Negara Indonesia

 

…Setelah curanmor, trafficking, peredaran ganja di papua kini masuk kedalam tingkat memprihatinkan. Ironisnya, perdagangan tersebut melibatkan anak-anak pula…[1]

Berkaca pada penggalan artikel diatas, maka yang terlihat adalah keadaan dimana rasa aman yang semakin jauh dari kehidupan  manusia. Padahal  seperti yang kita ketahui, kebutuhan dasar manusia yang harus dipenuhi selama hidupnya  sebagai prioritas kedua berdasarkan kebutuhan fisiologis hierarki maslow adalah keamanan. Seiring dengan itu, Negara sebagai penyedia yang bertanggung jawab dan berfungsi untuk mewujudkan dan menjamin keamanan manusia yang berada di dalamnya termasuk yang berada dikawasan perbatasan seperti yang tercantum dalam UUD 1945 pasal 28G butir 1 yang berbunyi :

Setiap orang berhak atas perlindungan diri pribadi, keluarga, kehormatan, martabat, dan harta benda yang di bawah kekuasaannya, serta berhak atas rasa aman dan perlindungan dari ancaman ketakutan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu yang merupakan hak asasi”. 

Maka dari itu, keamanan menjadi hak setiap warga Negara untuk menikmatinya. Namun mencari lingkungan yang benar-benar aman memang sulit.

Seperti yang disampaikan Buzzan dalam bukunya, keamanan merupakan keadaan yang bebas dari ancaman. Namun bagaimana bebas dari ancaman tersebut maka dibutuhkan alat yang berfungsi untuk memberikan keamanan tersebut. Oleh sebab itu, untuk menyelenggarakan fungsinya tersebut, Negara membentuk alat pertahanan dan keamanan agar bisa mendukung dalam menjalankan fungsinya.

Yang jadi permasalahan adalah bagaimana kemampuan atau kapabilitas Negara untuk melakukan pertahanan dan menjaga keamanan, yang dalam konteks tulisan ini menjaga keamanan dari kejahatan lintas batas atau transnasional dalam bentuk penyelundupan ganja, yang dapat dibaca sebagai ancaman non-tradisional atau non-konvensional.

Tulisan ini bertujuan untuk melihat kapabilitas alat pertahanan dan keamanan Negara di wilayah perbatasan Indonesia-Papua New Guinea dengan menjabarkan potensi ledakan ancaman yang dihadapi. Metode yang digunakan dalam memperoleh data yaitu dengan melakukan desk study. Tulisan ini akan terdiri beberapa bagian, pada bagian pertama akan lebih membicarakan gambaran umum mengenai ancaman dan  problematisasi  ancaman terhadap keamanan yang dalam konteks tulisan ini adalah ancaman non konvensional yang berasal dari eksternal Negara yaitu penyelundupan ganja. Sedangkan bagian kedua secara umum akan menggambarkan mengenai alat Negara bagaimana kinerjanya dalam mempertahankan dan menjaga keamanan dan sinergi apa yang dilakukan serta efek apa yang ditimbulkan dari ancaman yang dalam hal ini penyelundupan ganja

Ganja dan Ancaman Keamanan di Halaman Depan Indonesia

Barry Buzan berpendapat bahwa keamanan dapat dipahami sebagai persoalan yang berkaitan dengan nasib manusia sebagai kolektifitas. Dan keamanan menyangkut bagaimana kolektifitas membebaskan diri dari ancaman. Ancaman dan keamanan diibaratkan sebagai dua sisi mata uang. Tidak akan pernah ada masalah keamanan yang tidak ditimbulkan dari ancaman. meskipun demikian, keduanyanya memiliki perbedaan. Dalam pembahasan keamanan nasional lebih terletak pada objek yang terancam, yang secara komprehensif meliputi seluruh komponen Negara bangsa (nation state). Didalamnya mencakup warga negara (individu dan masyarakat), kesinambungan fungsi penyelenggaraan  pemerintahan Negara dan kedaulatan serta keutuhan wilayah. Sedangkan pembahasan mengenai ancaman lebih berkaitan  dengan hakikat, sumber dan sifat ancaman. didalamnya meliputi, ancaman militer non-militer, berasal dari dalam dan dari luar, serta menyebar secara perlahan maupun eksplanatif.[2]

Seiring perjalanan waktu, ancaman keamanan baru bermunculan. Disamping bahaya keamanan tradisional yang bersifat simetrik dan state centric. berkembanglah  ancaman keamanan baru yang bersifat asimetrik atau non-tradisional yang didominasi peran actor-aktor non Negara terhadap human security, seperti radikalisme, terorisme, pelanggaran HAM berat, konflik horizontal, degradasi lingkungan, migrasi illegal, kejahatan transnasional, globalisasi ekonomi yang tidak adil (global injustice), perompakan di laut, pemerintahan yang otoriter (state crime). Dan kecenderungan bahwa ancaman terhadap keamanan bersifat non-tradisional atau non-konvensional, yang dinilai membahayakan kedaulatan Negara, keutuhan wilayah negara dan keselamatan warga negaranya termasuk yang berada di kawasan perbatasan.

Berbicara mengenai ancaman jenis non-tradisional, maka kejahatan trannasional dalam bentuk penyelundupan (smuggling) apapun itu termasuk ganja, akan menimbulkan “keretakkan” rasa aman baik itu Negara maupun warga negaranya.

Sebelum masuk lebih dalam, ada baiknya mendefinisikan apa itu ganja dan penyelundupan. Kemudian Bagaimana ganja yang telah diselundupkan itu beredar, dan selanjutnya apa akibatnya jika mengkonsumsi barang haram tersebut. diawali dengan pendefinisian ganja. Ganja[3] merupakan tumbuhan budidaya penghasil serat, namun lebih dikenal karena kandungan zat narkotika pada bijinya, tetrahidrokanabinol yang dapat membuat pemakainya mengalami euphoria (rasa senang yang berkepanjangan tanpa sebab). Selain mendefinisikan ganja, mendefinisikan apa yang disebut dengan penyelundupan jugalah penting, maka dari itu, penyelundupan adalah semua bentuk proses memperoleh barang yang dilarang atau dibatasi tersebut menggunakan cara-cara yang melanggar hukum. Dan masalah penyelundupan saat ini sudah menjadi persoalan global yang melanda semua wilayah maupun negara di seluruh dunia.

Entah kepopuleran ganja yang semakin meroket atau apalah, berdasarkan data tahun 2010 yang dikeluarkan oleh  PBB bahwa ganja merupakan jenis narkoba yang paling banyak diproduksi, diperdagangkan dan dikonsumsi. Diperkirakan ganja tersebut digunakan oleh sekitar 119 juta sampai 224 juta penduduk dunia berusia 18 ke atas.[4] Berdasarkan laporan UNODC tahun 2009, Indonesia menepati peringkat kesembilan dunia terbesar mengkonsumsi ganja. Dan Indonesia adalah Negara peringkat ke sepuluh tertinggi di dunia sebagai ladang bagi peredaran narkoba jenis ekstasi dan ganja.[5] Jumlah populasi penduduk yang sangat besar, melebihi angka 200 juta penduduk ini, tentu membuat Indonesia memiliki daya pesona tersendiri dan menjadi sasaran peredaran gelap ganja dan membuat posisi warga Negara Indonesia menjadi terancam.

Biasanya yang menjadi target atau sasaran dari pemasaran kebanyakan adalah kalangan remaja, dan berdasarkan perkiraan Badan Nasional Narkotika (BNN) tidak kurang dari 1,1 juta pelajar dan mahasiswa ditanah air  telah terlibat dalam penyalahgunaan narkoba yang didalamnya termasuk ganja, namun sesungguhnya narkoba termasuk ganja dalam penyebarannya tidak memandang usia, anak-anak, remaja, orang dewasa, hingga orang tua  sekalipun tak luput dari ancaman nonkonvensional ini. Hasil penelitian BNN dan Puslitkes UI tahun 2011 menunjukan anka prevelensi penyalahgunaan Narkoba Di Indonesia adalah 2,2% atau setara dengan kurang lebih 4,2 juta orang dari total populasi penduduk Indonesia berusia 10 – 59 tahun. Sekitar 15.000 anak bangsa setiap tahun mati sia-sia akibat penyalahgunaan Narkoba dan hal ini dapat menyebabkan hilangnya generasi (lost generation).[6]

Seperti yang kebanyakan orang ketahui, untuk Indonesia sendiri komuditas ganja dibudidayakan secara illegal di Aceh. Dengan kata lain, Acehlah yang merupakan pemasok utama ganja untuk Indonesia. Namun tidak begitu halnya untuk wilayah Indonesia paling timur yaitu Provinsi Papua. Ternyata ganja yang beredar di tanah cendrawasih itu berasal dari negara tetangga yaitu negara Papua New Guinea dengan cara diselundupkan.

Provinsi Papua yang merupakan halaman depan Negara ini adalah Kawasan perbatasan darat Indonesia dengan Negara tetangga yaitu Papua New Guinea, tidak lepas dari belenggu masalah dan juga diwarnai oleh aktivitas-aktivitas pelanggaran lintas batas. Wilayah Indonesia yang berbatasan langsung dengan negara lain merupakan suatu kenyataan yang harus disadari bahwa Indonesia harus senantiasa waspada dalam menjaga wilayah perbatasan. kemungkinan terjadinya kegiatan kejahatan lintas negara berpotensi mengancam stabilitas nasional harus dapat diantisipasi dan mendapatkan perhatian dari pemerintah. Untuk kasus kawasan perbatasan ini, yang berkembang adalah penyelundupan ganja.

Ganja diselundupkan dari negara tetangga tersebut ke provinsi Papua bukan menjadi rahasia umum, semua orang disana menyadari adanya peristiwa itu. Kebun ganja yang luaspun terdapat di wilayah perbatasan papua (Indonesia) dengan Papua New Guinea.  Penyelundupan dilakukan melalui  titik-titik yang berbatasan langsung dengan Papua New Guinea seperti titik perbatasan yang rawan terhadap ancaman masuknya ganja dari Papua New Guinea adalah di kampung Bupul 11, Bupul 12, dan Bupul 13 Distrik Elokobel, Distrik waris, Distrik Muara Tami.[7] Sedangkan daerah yang rawan peredaran narkoba antara lain adalah Kota dan Kabupaten Jayapura, Kabupaten Keerom dan Kabupaten Merauke. Semakin hari penyelundupan ganja semakin marak dan semakim lama menimbulkan ancaman tersendiri bagi masyarakat yang harus segera menghentikan penyebaran ancaman tersebut.  Walaupun kepala BNN papua mengatakan bahwa peredaran ganja di papua masih dibandingkan dengan wilayah lain di Indonesia. Ibarat gigi berlubang jika tidak segera ditambal maka akan semakin membesar dan sakit.

Perdagangan ganja di Papua ini dapat dikatakan menggiurkan, sebagai pemasok utamanya adalah warga Papua New Guinea yang terkadang mereka melakukan barter dengan menukarkan ganja  dengan pakaian, makanan, handphone, sepeda motor curian, bahkan modus barter antara pengecer bahan bakar minyak dengan pemilik ganja. Ironisnya, peredaran ganja ini melibatkan anak-anak sebagai kurir. Berdasarkan data yang ditemukan bahwa tahun 2010, berdasarkan publikasi Badan Narkotika Nasional menyebutkan bahwa peredaran ganja pada tahun tersebut mencapai 1 ton 798 gram.

Selama ini, penggagalan penyelundupan ganja pelintas batas dari Papua New Guinea menuju indonesia melalui jalur darat. Namun saat ini, muncul indikasi bahwa penyelundupan juga disinyalir melalui jalur laut, masuk melalui pelabuhan-pelabuhan yang ada di provinsi Papua.

Jika berpijak pada konseptual dan data-data yang ditemukan diatas maka, saya melihat apa yang terjadi di beranda depan Negara ini, kejahatan lintas batas atua transnasional yang dalam konteks ini adalah penyelundupan ganja dapat diartikan sebagai suatu ancaman yang mengobrak-abrik keamanan bersifat non-konvensional atau non-tradisional yang transnasional dan menyebar secara perlahan. Mengapa demikian? Ini dipengaruhi karena actor non state lah yang bergerak dibelakangnya. Dan dari apa yang ditimbulkan memang secara tidak langsung menampilkan wujudnya secara fisik mengancam keselamatan warga Negara. Atau dalam  konsep comprehensive security, tidak tampak secara langsung memberikan ancaman pada dimensi keselamatan insani.  Namun secara perlahan akan menghancurkan generasi penerus bangsa ini.

Peredaran gelap atau penyelundupan ganja yang melalu jalur darat antar dua negara dalam ini indonesia tepatnya Papua dan negara Papua New Guinea bisa terjadi disebabkan lemahnya pengawasan dan keamanan dikawasan perbatasan. Infrastuktur yang tidak memadai serta kurangnya perhatian  dari pusat terhadap kebijakan yang berkaitan dengan kawasan perbatasan atau dapat dikatakan bahwa pemerintah menganggap bahwa kawasan perbatasan merupakan halaman belakang yang berantakan dan  tidak perlu dengan segera untuk membenahinya, hal tersebut menyebabkan terjadinya gap antara masyaraka wilayah sekitar perbatasan dengan masyarakat Indonensia di pusat. Keadaaan tersebutlah  yang mendorong masyarakat kawasan perbatasan mencari jalan lain untuk dapat mempertahankan kelangsungan hidup mereka, meskipun untuk bertahan hidup harus melakukan hal yang melanggar hukum. Maka terjadilah kegiatan-kegiatan penyelundupan narkoba dari negara tetangga yang dibawa masuk secara ilegal ke dalam negeri ini melalui masyarakat sekitar perbatasan tersebut atau warga Negara tetangga bersangkutan. Imbalan besar yang dijanjikan bila dapat membawa narkoba masuk melewati perbatasan tentu tak ingin mereka lewatkan begitu saja. Tanpa mereka sadari telah membawa ancaman yang berpotensi menghancurkan masuk kedalam rumah sendiri.

Dari Apa yang disampaikan diatas setidaknya telah memberikan gambaran apa yang disebut oleh Barry Buzan dengan what issue (threat)?from who and For whom? Dengan demikian dapat dilihat bahwa kawasan perbatasan darat Indonesia yang dalam hal ini provinsi Papua dengan Papua New Guinea memiliki potensi mendapatkan penyebaran ancaman yang dalam hal ini non-tradisional atau non konvensional serta membutuhkan penanganan segera agar tidak menjadi kronis.

 

Performa Negara dan Efek

Aspek lain yang harus diperhatikan yaitu siapa yang menjamin keamanan baik di pusat maupun  di kawasan perbatasan dan konteks ancaman yang dihadapi. Dalam hal ini Negaralah yang bertanggung jawab dan sebagai penyedia kemanan sesuai dengan fungsinya. Untuk menjalankan fungsi, dan merupakan suatu kebutuhan untuk mengetahui proses kearah akutnya ancaman maupun pencegahannya menjadi sangat penting. maka dari itu, Negara membentuk alat pertahanan dan keamanan, dan Negara memilih actor  lain yang dapat menghandle ancaman dengan cara lain. selain itu Negara juga mengeluarkan regulasi-regulasi yang berkaitan dengan penangan ancaman.

Semua alat Negara yang berfungsi untuk menyelamatkan warga Negara secara keseluruhan baik yang dipusat maupun dikawasan perbatasan melakukan sinergi dalam penanggulangan ancaman yang masuk atau akan masuk ke negeri yang “magnetic” ini. Dalam melaksanakan program penanggulangan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba ini, kepolisian dapat bekerja sama dengan lembaga pemerintah kementrian dan non kementrian seperti Dirjen Bea dan Cukai, Dirjen Imigrasi, departemen Agama, Departemen Pariwisata Seni dan Budaya, BPOM, Kejaksaan, kehakiman dan Badan Narkotika Nasional (BNN).

Menyadari ancaman yang dapat ditimbulkan akibat penggunaan ganja, maka berdasarkan Undang-undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, Pemerintah menetapkan ganja bersama opium beserta aneka turunannya, kokain, heroin dan beberapa jenis narkotika lainnya termasuk dalam Narkotika Golongan I (satu) yang artinya hanya boleh digunakan untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan dan sama sekali tidak boleh digunakan dalam terapi apapun karena berpotensi sangat tinggi untuk mengakibatkan ketergantungan.

Tidak hanya cukup sampai disana, presiden RI juga mengeluarkan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pelaksanaan Kebijakan dan Strategi Nasional (Jakstranas) di Bidang Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN)  Tahun 2011-2015.

Untuk ancaman ini,  BNN-lah yang menjadi  focal point dan executing agency dalam pelaksanaan Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN). Namun dalam konteks kawasan perbatasan yang menjadi actor utama yaitu TNI dan polisi yang bertugas mengamankan kawasan perbatasan dibantu actor lain yang berkaitan dengan pengamanan perbatasan. Dan berdasarkan data skunder yang saya temukan, pada tahun 2009 periode Januari-April terdapat 15 kasus. Sedangkan pada tahun 2011, jumlah kasus yang ditemukan sebanyak 98 kasus. Kemudian untuk tahun 2012, ketika diakumulasi dari januari sampai oktober ini tertangkapnya 12 orang warga Papua New Guinea yang melakukan usaha penyelundupan ganja ke wilayah paling timur Indonesia ini.

Peredaran ganja di Papua yang mencapai angka 1 ton lebih ini jika tidak segera melakukan security action dalam bahasa Barry Buzzan,  maka akan menyebabkan Kerugian yang akan diterima dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ialah semakin rusaknya genersi muda penerus bangsa yang akan membuat bangsa ini mengalami kemunduran karena penurunan fungsi kognitif, Menggerogoti tubuh secara fisik dan mengubah perilaku perasaan dan persepsi serta kesadaran penggunanya. Kehidupan sosialnyapun akan ikut terganggu, korban ini akan cenderung untuk melanggar norma yang berlaku di masyarakat sehingga memungkinkan dirinya untuk melakukan tindakan melawan hukum hanya untuk memenuhi hasratnya untuk kembali mengkonsumsi, seperti mencuri, merampok bahkan hingga membunuh sekalipun. Persoalan ini tentulah menjadi masalah yang sangat serius.

Dari penjabaran-penjabaran sebelumnya, maka dapat dinilai bahwa Negara dengan kapabilitasnya belum mampu menghindarkan warga negaranya dari ancaman yang menghantui kehidupan warga Negara yang dibawah naungannya. Dan pada akhirnya Negara mengingkari janji yang telah disampaikan dalam undang-undang dan keamanan itu belum dapat diwujudkan.

Kesimpulan

Kawasan perbatasan sebagai halaman depan Negara ini harus di perkokoh agar ancaman-ancaman yang bersifat asimetrik dan berasal dari luar tidak mampu untuk menembus dinding-dinding pertahanan dan keamanan Negara yang besar ini. Dan ancaman yang telah terlanjur menyusup masuk maka security action harus dengan optimal dan genjar dilakukan, supaya yang terancam dalam hal ini warga Negara bisa bernafas lega dan kebutuhan fisiologis terpenuhi dan janji yang telah diukir Negara dapat tertepati.

Referensi

Barry Buzan. “Security: A New Framework for Analysis”

Cornelis Lay , “Mengenal Keamanan

Sobar Sutisna. “Pengamanan Wilayah Perbatasan Negara Kesatuan Republik Indonesia Dan Kepastian Hukum Bagi Pertahanan Wilayah Negara”

Moeldoko. “Kompleksitas Pengelolaan PerbatasanTinjauan Dari Perspektif Kebijakan PengelolaanPerbatasan Indonesia

T. Hari Prihatono.2007.  Keamanan nasional: kebutuhan mengembangkan prespektif integrative versus pembiaran politik dan kebijakan.

I Putu Gede. “peredaran Ganja Di Papua Capai 1 Ton”. Diakases melalui http://www.kbr68h.com/berita/papua/26058-peredaran-ganja-di-papua-capai-1-ton

Johanis ezra.“Polisi Air Tidak Beri Ruang Bagi Pengedar Ganja”. Diakases melalui http://www.m.toptvpapua.tv/artikels/158-polisi-air-tidak-beri-ruang-bagi-pengedar-ganja

Ramayanti s. Djapara.  “Penyalahgunaan Ganja Mereduksi Esensi Manusia”. Diakases melalui http://granat.or.id

Sindu Darmawan. Marak Penyelundupan Di Perbatasan”. Diakases melalui http://www.kbr68h.com/galeri-foto/27920-marak-penyelundupan-di-perbatasan

Sudarianto. “Efek Mengkonsumsi Ganja”. Diakases melalui http://bnnpsulsel.com/penyalahguna-narkoba/efek-mengkonsumsi-ganja/

Regulasi Pencegahan Narkoba Sangat Lemah”. Diakases melalui http://www.immcnews.com/Analisa-Hari-Anti-Narkoba-2012/immc-regulasi-pencegahan-narkoba-sangat-lemah.html

Peredaran Gelap Narkoba Dan Upaya Pencegahannya”. Diakases melalui http://www.mediaindonesia.com/mediahidupsehat/index.php/read/2012/08/29/5534/4/Peredaran-Gelap-Narkoba-dan-Upaya-Pencegahannya

PBB: Ganja Adalah Narkoba Paling Populer Di Seluruh Dunia”. Diakases melalui http://www.legalisasiganja.com/pbb-ganja-adalah-narkoba-paling-populer-di-seluruh-dunia/

Penyelundupan Ganja Di Perbatasan Merauke Belum Ditemukan”. Diakases melalui http://bintangpapua.com/merauke/16123-penyelundupan-ganja-di-perbatasan-merauke-belum-ditemukan-n

Peredaran Narkoba Di Papua Rendah” Diakases melalui http://bintangpapua.com/kab-jayapura/23265-peredaran-narkoba-di-papua-rendah

Di Muara Tami 4 Pemuda Terjaring Bawa Ganja”.Diakases melalui http://www.bintangpapua.com/port-numbay/26008-di-muara-tami-4-pemuda-terjaring-bawa-ganja

“Antisipasi peredaran narkoba”. Diakses melalui http://www.lenterapapuabarat.com/front/index.php?option=com_content&view=article&id=584:antisipasi-peredaran-narkoba&catid=37:peristiwa&Itemid=53

“Sejumlah kabupaten kota di papua rawan peredaran narkoba”. Diakses melalui http://www.republika.co.id/berita/nasional/hukum/12/07/24/m7o0mr-daerah-perbatasan-rawan-penyelundupan-narkoba


[1] Lebih lengkap lihat Jerry Omona dalam “Peredaran Ganja Di Papua Makin Memprihatinkan”.

[2] T. Hari Prihatono.2007.  Keamanan nasional: kebutuhan mengembangkan prespektif integrative versus pembiaran politik dan kebijakan. Hal 47-48.

[3] Ganja memiliki banyak istilah di kalangan para pemakai atau junkies seperti cimeng, rasta, ulah, gelek, buda stik, pepen, hawai, marijuana, dope, weed, hemp, hash (hasish), pot, joint, sinsemilla, grass, dan ratusan nama jalanan lain yang tersebar di seluruh dunia untuk penamaan ganja.

Ganja merupakan tanaman semusim ini tingginya dapat mencapai 2 meter. Berdaun menjari dengan bunga jantan dan betina ada di tanaman berbeda (berumah dua). Bunganya kecil-kecil dalam dompolan di ujung ranting. Ganja hanya tumbuh di pegunungan tropis dengan ketinggian di atas 1.000 meter di atas permukaan laut. Lebih lengkap lihat Wikipedia : Ganja.

[4] Menurut data tahun 2010, penggunaan ganja sangat umum di Australia dan Selandia Baru. Amerika Serikat dan Kanada berada pada urutan kedua, diikuti oleh Spanyol, Perancis, Italia dan Republik Ceko. Sedangkan Nigeria, Zambia dan Madagaskar berada pada posisi keempat.

[5] Lebih lanjut lihat Ir. Ramayanti S. Djapara. Penyalahgunaan Ganja Mereduksi Esensi Manusia.

[6] Lihat lebih lanjut artikel  Pengungkapan Jaringan Sindikat Narkoba Internasional Dengan Barang Bukti 1.412.476 Butir Ekstasi.

[7] Hasil kompilasi beberapa surat kabar online daerah papua.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s