PEMILIHAN KEPALA DAERAH SEBAGAI MOMENTUM SIRKULASI ELIT Case: Pemilihan Kepala Daerah Kabupaten Solok Periode 2010-2015

UAS Teori Politik

oleh Dian Iskandar

PEMILIHAN KEPALA DAERAH SEBAGAI MOMENTUM SIRKULASI ELIT

Case: Pemilihan Kepala Daerah Kabupaten Solok Periode 2010-2015

A.    Pengantar

Sebagai produk dari reformasi, peralihan kekuasaan dilakukan melalui sebuah kompetisi  terbuka dan telah diatur dalam perangkat peraturan perundang-undangan. Salah satunya Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004, dimana  isi dari Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tersebut mengatur tentang pemilihan kepala daerah yang  dipilih secara langsung oleh rakyat. Hal ini membuat banyaknya elit yang bertarung untuk mendapatkan jabatan sebagai kepala daerah. Jabatan kepala daerah adalah sebuah jabatan public yang menggiurkan, karena Jabatan kepala daerah dapat diartikan sebagai  kekuasaan dan kekuasaan tersebut merupakan suatu hal yang langka, maka dari itu tak mengherankan jika banyak elit local pun  bersaing memburu kekuasaan yang sifatnya langka ini untuk bisa menjadi dominan diantara elit politik yang ada, walaupun harga kekuasaan itu sangatlah  mahal dan beresiko.[1]

Pada tahun 2010, Provinsi Sumatera Barat dan  13 Kota/Kabupaten[2] dari 19 kota/kabupaten yang ada di Sumatera Barat melakukan pesta demokrasi kelas local, salah satunya adalah Kabupaten Solok. Dilaksanakan pesta demokrasi tersebut untuk menentukan siapa yang akan memegang tampuk kekuasaan selama lima tahun kedepan. Pada pemilihan kepala daerah serentak 2010 tersebut, persaingan politik tidak dapat dielakkan. Sebanyak 73 pasang kandidat kepala daerah berkompetisi dalam memperebutkan jabatan Gubernur/Bupati/Walikota, dan 3 pasang diantaranya bertarung pada wilayah Kabupaten Solok untuk merebutkan jabatan Bupati dan Wakil Bupati.[3]  Menjadi menarik  disini karena governing elite saling bersaing[4] dan juga terdapat governing elite yang berasal  kelompok lain.[5]  Secara tidak lagsung ini melihatkan bahwa adanya pola hubungan (relasi elit) yang simetris ditunjukan dengan adanya hubungan yang kompetitif dan nantinya akan berujung terjadinya sirkulasi elit.[6] Oleh karena itu penulis mencoba melihat “bagaimana paktek sirkulasi elit untuk mendapatkan kekuasaan pada  Pemilihan Kepala Daerah Kabupaten Solok  pada tahun 2010”.

B.     Sirkulasi Elit : Pendekatan Teoritik

Sebelum bicara mengenai sirkulasi elit, maka perlu diketahui bahwa dalam masyarakat terdapat sekelompok individu yang memiliki keunggulan-keunggulan tertentu melekat pada dirinya, dan mampu mengarahkan individu lain dalam kehidupan bermasyarakat. Maka dari itu munculah kelompok yang memimpin dan dipimpin atau memerintah dan diperintah. Hal ini berkaitan dengan pendapat yang dikemukakan Pareto dan Mosca, bahwa disetiap masyarakat baik yang masih tradisional ataupun yang modern, pasti terdapat sekelompok minoritas individu yang memerintah anggota masyarakat lainnya. Dinyatakan lebih lanjut bahwa kelompok kecil individu  tadi merupakan lapisan elite dimasyarakatnya dapat dipilah menjadi  Governing elite dan non-governing elite. Governing elite ini terdiri dari individu-individu yang sedang menduduki jabatan-jabatan politis. Sedangkan non-governing elite ini, merupakan kelompok elit yang tidak sedang menduduki jabatan politis namun dapat mempengaruhi secara langsung pembuatan kebijaksanaan. Kelompok lain yang mayoritas dikenal dengan non elite.[7]

            Pembagian suatu masyarakat menjadi elit dan non elit ini dapat mengalami perubahan. Dimana masyarakat yang berkedudukan sebagai elit akan ada masanya digantikan oleh kelompok lainnya. Karena posisi mereka tidak bersifat langgeng. Sehubungan dengan hal tersebut, Pareto menyatakan pendapat bahwa tubuh elit terdapat mengalami pembusukan dan kelompok massa berkecenderungan untuk membuat dirinya secara potensial masuk ke jaringan elit. Maka dari itu Pareto yang mengemukakan tentang jenis pergantian antara elit, yaitu pergantian (i) diantara kelompok-kelompok elit yang memerintah itu sendiri dan (ii) diantara elit dengan penduduk lainnya. Pergantian yang kedua ini dapat berupa individu-individu dari lapisan berbeda kedalam kelompok elit yang sudah ada dan/atau individu-individu dari lapisan bawah yang membentuk kelompok elit baru dan masuk ke kancah perebutan kekuasaan dengan elit yang sudah ada.[8]

Selain Pareto, teori elit politik juga dikembangkan oleh Mosca yang percaya dengan teori pergantian elit. Ia melihat bahwa karakteristik yang membedakan elit adalah kecakapan untuk memimpin dan menjalankan control politik. Dan sekali kelas yang memerintah itu kehilangan kecakapannya dan orang-orang yang luar kelas lebih menunjukan kecakapan  yang lebih baik, maka terdapat kemungkinan kelas yang berkuasa akan dijatuhkan dan digantikan oleh kelas penguasa yang baru. Mosca juga berpendapat bahwa, jika dalam elit yang berkuasa tidak mampu memberikan  layanan-layanan yang diperlukan oleh massa, atau layanan yang diberikan dianggap tidak bernilai  lagi, dan terdapatnya perubahan pada kekuatan social masyarakat, maka perubahan tidak dapat dihindari. Ia juga berpendapat bahwa rumusan kepentingan dan cita-cita baru menimbulkan persoalan baru yang nantinya akan mempercepat terjadinya pergantian elit.[9]

C.    Elit dan Persaingan : Suatu Deskripsi

Pada bagian ini penulis mencoba mendeskripsikan secara ringkas elit-elit yang bersaing memperebutkan kekuasaan yang terbatas ini, dalam konteks pemilihan kepala daerah Kabupaten Solok periode 2010-2015. Pemilihan kepala daerah ini diikuti oleh tiga pasang elit. Pertama, pasangan Drs. Syamsu Rahim dan Drs. Desra Ediwan AT MM, dimana Drs. Syamsu Rahim saat itu sedang menjabat Walikota Solok, Sedangkan pasangannya Drs. Desra Ediwan AT MM sedang menjabat sebagai Wakil Bupati Kabupaten Solok. Kedua, Pasangan Gusmal SE MM dan Drs. Edi Erizon. Gusmal saat itu adalah Bupati Kabupaten Solok, sedangkan pasangannya Drs. Edierizon adalah seorang Pengusaha. Ketiga, Pasangan Drs. Beny Faizal Chan MM dan Drs. Nazar Bakri, Drs. Nazar Bakri adalah Ketua PKS Kab. Solok yang saat itu menjadi Anggota DPRD Kab. Solok.

Perlu penulis tegaskan disini bahwa dalam tulisan ini hanya akan membahas tentang dua elit saja yaitu  pasangan Gusmal SE MM dan Drs. Edi Erizon serta Drs. Syamsu Rahim dan Drs. Desra Ediwan AT MM, karena dua kubu elit inilah yang kuat pada saat kompetisi berlangsung[10]. Untuk itu, penulis merasa perlu mendeskripsikan mengenai  governing elite dalam masalah ini adalah Gusmal yang menjabat selaku Bupati, elit ini dapat dikatakan telah melakukan aksi anticipatory[11], seperti yang dikatakan oleh J. Mansbridge, dalam Rethinking Representation, karena  pada saat elit bersangkutan menjabat, ia fokus untuk pemilihan berikutnya dengan melakukan berbagai cara untuk mendapatkan dukungan dari masyarakat, selama menjabat sebagai governing elite ini melakukan banyak hal seperti menjalankan tiga pilar utama pembangunan yang telah dicanangkan yakni bidang Pendidikan, Kesehatan dan Ekonomi Kerakyatan.

Contohnya, Pemerintahan kabupaten bersama DPRD telah membangun SD dan SMP satu atap pada beberapa lokasi, pemberian dana BOS untuk SLTA dan lainnya.Untuk bidang kesehatan telah pula dicanangkan pengobatan gratis di tingkat dasar. Dan mengusahakan terwujudnya konsep berobat gratis bagi seluruh masyarakat Kabupaten Solok. Sedang untuk peningkatan Ekonomi Kerakyatan telah disalurkan berbagai bentuk bantuan permodalan melalui Kantor Pemberdayaan Masyarakat. Pengurusan berbagai izin secara gratis dan juga pembangunan berbagai sarana dan prasarana yang membantu peningkatan perekonomian masyarakat.

Selain itu, governing elite ini juga membangun relasi  dengan berbagai kalangan, diantaranya pemuka-pemuka adat karena elit ini merupakan ketua Lembaga kerapatan Adat Alam Minangkabau, dan ikatan para perantau Kabupaten Solok. Bukan hanya itu, ia juga membidik para pemilih pemula dengan cara pada saat-saat tertentu datang ke sekolah-sekolah terutama Sekolah Menengah Atas yang ada di Kabupaten Solok yang penulis melihat itu sebagai bentuk mempromosikan dirinya kepada pemilih pemula,  dari apa yang elit tersebut lakukan, penulis melihat itu merupakan suatu upaya untuk melanggengkan kekuasaannya.

Sementara itu, governing elite yang berasal dari kelompok lain, jika menggunakan istilah M. V. Hood III dan Seth C. McKee[12] dapat dikatakan sebagai stranger danger dalam kompetisi atau persaingan memperebutkan kekuasaan karena segudang prestasi yang elit bersangkutan dapatkan selama menjadi governing elite di kelompok lain tersebut, stranger danger yaitu Syamsu Rahim. Mengapakan dikatakan penantang yang berbahaya karena dianggap telah berhasil membangun tempat dimana elit bersangkutan memerintah dibuktikan dengan banyaknya prestasi seperti mempelopori penerapan dan pelaksanaan etika penyelenggaraan pemerintahan di Indonesia. Peraih penghargaan adipura, widyakarma, dan leadershippark award 2007. [13] Selain itu karier politiknya yang bagus elit tersebut merupakan mantan ketua DPRD selama dua periode.

Pada saat pemilihan kepala daerah periode 2010-2015 kedua elit ini saling bersaing kemudian, governing elite bersama pasangannya masih menggunakan wacana yang sama pada saat pemilihan kepala daerah sebelumnya melalui visi dan misi pada saat memegang jabatan, yaitu melanjutkan tiga pilar pembangunan Kabupaten Solok dengan memperkuat sandi tungku tigo sajarangan, tali tigo sapilin dan tiga kader utama[14].  Bahkan mereka  semakin gencar melakukan kampanye simpatik dengan cara mendatangi nagari-nagari dan bercengkrama dengan penduduk di nagari tersebut dengan melakukan pendekatan langsung untuk meraih simpati masyarakat dan untuk mengetahui kebutuhan masyarakat  dalam perumusan kebijakan nantinya. Bukan hanya itu, praktek marketing politik juga dilakukan dengan mempromosikan diri melalui media cetak local, baliho, poster dan lain sebagainya. Hal ini merupakan suatu bentuk elit mempertahankan eksistensinya posisi dan pengaruhnya ditengah-tengah kehidupan masyarakat.

Hal yang tidak jauh berbeda dilakukan oleh governing elit yang berasal dari kelompok lain. Wacana yang dibawa  Elit ini dan pasangannya disampaikan melalui visi dan misi yaitu mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik di Kabupaten Solok demi terwujudnya masyarakat sejahtera di daerah ini[15]. Melakukan praktek marketing politik, dan juga menggelar kampanye yang serupa untuk mendapatkan dukungan masyarakat dengan hampir mengunjungi seluruh nagari yang ada di Kabupaten Solok

Namun pada saat pemilihan kepala daerah yang kedua kalinya ini bagi governing elite, dan berdasarkan hasil penghitungan perolehan suara di tingkat Komisi Pemilihan Umum (KPU) setempat menyatakan bahwa elit bersangkutan dikalahkan oleh pesaingnya yang juga governing elit tapi berasal dari kelompok lain. Dalam pemilihan, elit ini perolehan suara yang diperoleh sebanyak 64.801 (42,24%). Sedangkan pesaingnya mendapatkan suara sebanyak 77.359 (50,43%). Berdasarkan wawancara dengan 6 orang pemilih yang memilih pada saat pemilihan kepala daerah pada tahun 2010 tersebut, terdapat 5 dari 6 orang mendukung governing elit yang berasal dari kelompok lain ini, karena elit yang berasal dari kelompok lain ini berhasil dengan baik membangun kelompoknya (baca: Kota Solok) dengan harapan dapat membangun daerah mereka (baca : Kabupaten Solok) .[16] Hal ini menujukan bahwa masyarakat menilai  elit tersebut mempunyai kemampuan  dan harapan yang besarpun muncul dari masyarakat sehingga kemenangan berada ditangan governing elit yang berasal dari kelompok lain ini.[17]

D.    Pemilihan Kepala Daerah Sebagai Momentum Sirkulasi Elit

Demokrasi memberi peluang bagi elit untuk terbentuk  secara bebas dan memberikan kompetisi yang pemilihan umum untuk menentukan siapa yang akan menjadi governing elite selama lima tahun kedepan. Seperti halnya dengan  pemilihan kepala daerah yang merupakan momentum dari sirkulasi elit ini. Dimana elit-elit tersebut bersaing memperebutkan kekuasaan yang sifatnya terbatas, atau dalam konteks ini beraturan antar elit untuk memperebutkan kekuasaan.[18] Hal ini dapat dilihat dengan dilaksanakannya memperebutkan jabatan kepala daerah dan wakilnya. 

Seperti yang telah dijabarkan sebelumnya bahwa pada pemilihan kepala daerah di Kabupaten Solok ini dapat dikatakan menarik karena terdapatnya governing elit yang bersaing, yang satu governing elit di kelompok ini sendiri (baca : Kabupaten Solok) dan yang satunya lagi governing elit tapi dari kelompok lain (baca : Kota Solok) Sebagaimana yang  Pareto sampaikan pada jenis pergantian elit yang pertama yaitu pergantian diantara governing elite itu sendiri. Karena jabatan kepala daerah sebagai kekuasaan structural dalam bentuk otoritas formal yang jumlahnya terbatas, maka terjadilah hal yang tidak dapat dielakkan yaitu persaingan antara pasangan elit yang satu dengan pasangan elit yang lainnya.

Dalam arena demokrasi ini, elit tidak akan terlepas dari masyarakat. Disini masyarakatlah yang menentukan siapa yang akan menjadi elit yang dalam hal ini adalah governing elite. Maka dari itu, bukan hal yang mengherankan mengapa si governing elite di kelompok ini (baca : Kabupaten Solok) bersikukuh mengamankan posisinya dengan melakukan berbagai cara, seperti yang telah di paparkan sebelumnya.

Governing elite ini tentunya sudah memiliki massa yang banyak karena elit yang bersangkutan telah menjabat sebagai kepala daerah yang notabene popularitasnya tidak dapat diragukan lagi dan ini dapat dikatakan bahwa ia telah mempunyai modal awal untuk bertarung mempertahankan kekuasaan yang sudah ditangannya. Bukan hanya modal popularitas, tetapi elit ini juga membangun jejaring relasi dengan berbagai kalangan mulai dari kalangan adat dengan merangkul pemuka-pemuka adat, pedagang dan pengusaha serta petani, kalangan pemilih pemula, dan pemuda seperti karang taruna, pemuda siaga bencana, masyarakat kecil dan lain sebagainya.

Namun dalam momentum pemilihan kepala daerah ini, governing elit ini ditumbangkan oleh stranger danger atau  governing elit yang berasal dari kelompok lain. Seperti halnya yang digambarkan Pareto bahwa posisi elit ini tidak bersifat langgeng. Dengan ini penulis berpendapat  bahwa ini merupakan bentuk perlawanan dari masyarakat yang berimbas pada memudarnya legitimasi dari masyarakat terhadap si governing elit, dengan anggapan bahwa governing elit yang lama ini tidak mampu menjalankan dan mewujudkan visi dan misinya serta belum mampu mensejahterakan masyarakat Kabupaten Solok. Dengan kata lain elit ini sudah tidak mampu lagi menyesuaikan diri dengan keadaan yang akibatnya need and hope masyarakat tidak terpenuhi. Hal ini juga sejalan dengan apa yang disampaikan Mosca bahwa elit yang berkuasa tidak mampu memberikan  layanan-layanan yang diperlukan oleh massa, atau layanan yang diberikan dianggap tidak bernilai  lagi, dan terdapatnya perubahan pada kekuatan social masyarakat, maka perubahan tidak dapat dihindari. Dan sekali kelas yang memerintah itu kehilangan kecakapannya dan orang-orang yang luar kelas lebih menunjukan kecakapan  yang lebih baik, maka terdapat kemungkinan kelas yang berkuasa akan dijatuhkan dan digantikan oleh kelas penguasa yang baru.

Penulis juga melihat bahwa pemilihan kepala daerah yang sebagai  momentum  terjadinya sirkulasi elit,  bukan hanya telah diatur dalam perundang-undangan namun dibalik itu semua terdapat motif dan kepentingan-kepentingan politik antara elit-elit yang saling bertanding merebutkan kekuasaan yang sifatnya terbatas ini, dan dapat dikatakan karena  adanya perbedaan sasaran-sasaran yang tidak sejalan dengan elit sebelumnya. Selain itu terdapatnya motif tertentu, yang secara umum menurut Domhoff,[19] motivasi seseorang untuk merebut kekuasaan, selain ia juga ingin berkuasa, mereka juga menginginkan uang, jaringan dan investasi strategis. Umumnya elit politik ingin menduduki jabatan-jabatan politik, karena keuntungan-keuntungan seperti itu. Walaupun harus menghabiskan biaya yang dapat digolongkan besar untuk dapat menduduki jabatan tersebut.

Momentum sirkulasi elit  yang  terbuka ini, secara langsung menimbulkan persaingan, dimana dalam konteks demokrasi masyarakatlah yang memegang peranan untuk menentukan siapa mengantikan siapa atau menentukan siapa yang menang dan yang kalah. Maka dari itu, elit-elit tersebut menjaring pendukung dan memobilisasi mereka. Karena itu tidak mengherankan bahwa masyarakat menilai siapa elit yang akan didukung dengan melihat capabilitas individu, bagaimana elit tersebut memperlakukan kekuasaan yang ada ditangannya.

Menjawab pertanyaan yang telah penulis ajukan diawal maka dapat disimpulkan bahwa praktek sirkulasi elit di kabupaten solok dalam konteks pemilihan kepala daerah diwarnai dengan persaingan antar elit yang berkompetisi  dan dalam persaingan tersebut governing elite melakukan upaya-upaya yang bisa untuk mempertahankan eksistensinya namun governing elite ini ditumbangkan oleh penantangnya yang notabene juga governing eliet namun dari kelompok lain yang berhasil membangun kelompoknya itu karena mendapat dukungan yang banyak dari masyarakat Kabupaten Solok dengan pertimbangan elit yang bersangkutan akan mampu membangun daerah mereka menjadi lebih baik dari pada elit yang memerintah sebbelumnya.

E.     Penutup

Pemilihan kepala daerah dapat dipahami sebagai suatu momentum terjadinya sirkulasi elit, dan yang menentukan adalah massa dengan melihat bagaimana elit tersebut secara individu dan melihat keadaan social serta bagaimana sejarah saat elit tersebut memerintah  dan bagaimana ia menjalankan jabatannya. Sirkulasi elit ini juga didorong oleh adanya kepentingan-kepentingan politik yang terwujud dalam visi dan misi maupun kepentingan  individu. Selain dorongan dari rakyat yang need and hope nya dapat di tanggapi secara serius oleh elit yang dipercaya sebagai elit yang sedang memerintah. Untuk mencapai posisi tersebut maka perlu melewati tahap persaingan untuk mendapatkan dukungan dari masa dengan membawa wacana-wacana yang terkait dengan apa yang akan dibutuhkan oleh massa, sehingga akan memunculkan legitimasi dari masyarakat. Dan dapat diketahui bahwa esensial dari sirkulasi elit adalah menemukan elit yang lebih berkualitas dari pada elit sebelumnya, yang dianggap mampu dengan baik merumuskan masalah pokok dari apa yang dihadapi masyaraat dan mampu menemukan jawaban yang tepat untuk memecahkan masalah tersebut.

 

DAFTAR PUSTAKA

Bottomore,T. B. 2006. Elit Dan Masyarakat. Jakarta : Akbar tandjung institute

Firmanzah. 2010. Persaingan, Legitimasi Kekuasaan Dan Marketing Politik Pembelajaran Politik Pemilu 2009. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia

Haryanto. 2005. Kekuasaan Elit Suatu Bahasa Pengantar. Yogyakarta. PLOD.

Nurhasim, Much dkk. 2005. Konflik Antar Elit Politik Local Dalam Pemilihan Kepala Daerah. Jakarta : Pustaka pelajar

Varma. SP. 1999. Teori Politik Modern. Jakarta : Gafindo

Forum Silaturahmi dan Komunikasi Masyarakat Minangkabau. 27 May 2009.

Antara news.com

BAKiNNews.com


[1] Dalam konteks pemilihan umum ini yang akan menduduki jabatan kepala daerah adalah elit yang mendapat legitimasi dari rakyat yang disini adalah jumlah suara terbanyak yang diterima oleh elit yang bersaing untuk jabatan tersebut. Untuk itu para elit berusaha untuk menburu dukungan massa yang banyak, yang kebanyakan elit melakukannya dengan cara memobilisasi para pendukungnya dan merebut pendukung elit lain melalui  TV, radio, internet, Koran, baliho, poster dan kampanye sejumlah media promosi lainnya yang digunakan secara aktif selama periode pemilihan umum atau dapat dikatakan melakukan praktek marketing politik demi mendapatkan dukungan dari rakyat. Selain itu belum tentu elit tersebut mendapatkan jabatan yang diinginkan sedangkan biaya yang dikeluarkan sudah terlalu besar.  Oleh karena itu penulis melihat mengapa untuk mendapatkan kekuasaan sangatlah mahal dan beresiko.

[2]  Pemilihan Kepala Daerah secara serentak pada 30 Juni 2010. Termasuk pemilihan Gubernur Sumatera Barat dan 13 Bupati/Walikota  Kabupaten Padang Pariaman, Agam, Pasaman, Pasaman Barat, 50 Kota, Tanah Datar dan Sijunjung, Dharmasraya, Pesisir Selatan, Solok, Solok Selatan serta Kota Solok

[3] Drs. Syamsu Rahim dan Drs. Desra Ediwan AT MM; Gusmal SE MM dan Drs. Edierizon; Drs. Beny Faizal Chan MM dan Drs. Nazar Bakri.

[4] Gusmal dan Desra sebagai pasangan bupati dan wakil bupati periode 2005-2010 tidak lagi sejalan untuk lima tahun kedepan. Dan bersaing dalam pemilihan kepala daerah periode 2010-2015. Gusmal dengan pasangan barunya Edi Erison dan desra dengan pasangan nya Syamsu Rahim dimana Desra tetap bertindak sebagai calon wakil bupati. Ini menunjukan bahwa adanya persaingan antara elit yang memerintah.

[5] Elit yang  sedang menjabat sebagai kepala daerah namun  di Kota Solok.

[6] Bahan perkuliahan teori politik pertemuan ke empat.

[7] Pareto dan Mosca dalam Haryanto “Kekuasaan Elit Suatu Bahasan Pengantar”., hal. 73-74

[8] Dalam Teori Politik Modern SP. Varma.hal 201

[9]Ibid., hal 203-204

[10] “Pada awalnya kandidat hanya kedua pasangan saja, sedangkan pasangan Drs. Beny Faizal Chan MM dan Drs. Nazar Bakri hanya calon alternative, hal ini dilakukan agar tidak mencoreng citra demokrasi di Kabupaten Solok” hal ini yang disampaikan oleh ketua KPU Kabupaten Solok pada wartawan antara news. Berdasarkan inilah penulis menilai yang sebenarnya bersaing hanya dua kandidat saja. Selain itu yang menjadi pertimbangan adalah hasil perolehan suara yang diperoleh pasangan Drs. Beny Faizal Chan MM dan Drs. Nazar Bakri hanya sekitar 7 % saja.

[11] Dalam perkuliahan teori politik pertemuan V

[12] Penulis Stranger Danger: Redistricting, Incumbent Recognition, and Vote Choice. Yang diterbitkan Jstor

[13] Dalam Forum Silaturahmi dan Komunikasi Masyarakat Minangkabau. 27 May 2009.

[14] Tungku tigo sajarangan adalah sebutan untuk alim ulama (ulama), cadiak pandai  dan niniak mamak sedangkan tigo tali sapili adalah adat, agama dan hokum. Disampaikan dalam media massa online BAKiNNews, Kamis 7 juni 2010 “3 pasang calon bupati dan wabup menyampaikan visi misi di hadapan DPRD”

[15] Ibid.,

[16] Wawancara yang dilakukan pada 28-31 Mei 2012

[17] Ilham Safutra, 06/07/2010, “Syamsu Rahim-Desra Ediwan Unggul di Solok”harian Padang Ekspres.

[18] T.B. Bottomore. Elite dan Masyarakat. hal 139

[19] Dalam Konflik  Antar Elit Politik Local Dalam Pemilihan Kepala Daerah, hal 14

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s