Arena dan Modal : Strategi Dominasi Kekuasaan

Arena dan Modal : Strategi Dominasi Kekuasaan

Dalam pandangan Bourdieu arena merupakan jaringan relasi antar posisi objektif di dalamnya. Keberadaan relasi-relasi ini terpisah dari kesadaran dan kehendak individu. Dan relasi tersebut bukan interaksi atau ikatan intersubjektif antar individu. Bourdiue mendefinisikan arena sebagai arena pertempuran : dan juga merupakan arena perjuangan (Bourdieu dan Wacquant, 1992).[1] Dapat diartikan sebagai arena social yang didalamnya perjuangan atau manuver terjadi untuk memperebutkan sumber atau pertaruhan dan akses terbatas.

Berpikir dalam konteks arena maka perlunya mengakui sentralitas relasi social dalam analisis social, maka arena dapat dipandang sebagai suatu system posisi social yang terstruktur, yang dikuasai oleh individu atau institusi suatu inti yang mendefinisikan situasi yang mereka anut.

Ini juga suatu kekuatan yang ada diantara posisi tersebut. Suatu arena yang distrukturkan secara internal dalam konteks relasi kekuasaan. Posisinya ada dalam relasinya dengan dominasi, subordinasi atau ekuivalensi (homologi) satu sama lain karena akses yang mereka  raih atas benda atau sumber yang dipertaruhkan di arena. Benda tersebut dibagi dalam empat kategori[2] : Pertama, modal ekonomi (economic capital), yakni berupa harta kekayaan misal properti, uang dan sejenisnya. Kedua, modal sosial (social capital), yakni berupa sumber-sumber sosial seperti berbagai jenis relasi bernilai dengan pihak lain yang bermakna. Ketiga, modal cultural (cultural capital), yakni berupa aset-aset informasi seperti pengetahuan yang legitim. Keempat, modal simbolik (symbolic capital), yang wujudnya berupa prestise dan gengsi social. Dalam fungsinya, eksistensi suatu arena menjelaskan dan menciptakan suatu kepercayaan pada sisi partisipan  dalam legistimasi dan nilai modal yang dipertaruhkan di arena.

Berkaitan dengan posisi dari agen di arena maka yang menentukan adalah jumlah dan bobot relative modal yang mereka kuasai (Anheier, Gerhards, dan Romo, 1995).[3] Orang yang menduduki posisi dalam arena tersebut menjalankan berbagai strategi. Bourdieu membedakan ada tiga jenis strategi dalam ranah yang biasa dipakai oleh para agen dalam perjuangan kekuasaan (Swartz 1996: 125). Pertama, conservation, yaitu strategi yang biasa dipakai oleh pemegang posisi dominan dan senior dalam sebuah ranah. Kedua, succession, yaitu strategi yang bertujuan untuk mendapatkan akses terhadap posisi-posisi dominan di dalam ranah. Posisi dominan tersebut biasanya dikejar oleh para agen pendatang baru. Ketiga, subversion, yaitu strategi yang dipakai oleh mereka yang mengharapkan mendapat bagian kecil saja dari kelompok-kelompok dominan. Jika startegi conversation akan lebih banyak dipakai oleh kelompok-kelompok dominan dalam sebuah masyarakat, maka strategi succession dan subversion lebih banyak menjadi pilihan mereka yang tersubordinat.[4]

Melalui strategi inilah “orang yang menduduki posisi ini, baik secara individual maupun kolektif untuk mempertahankan atau memperbaiki posisi mereka dan menerapkan prinsip-prinsip hierarkisasi yang paling sesuai dengan produk mereka sendiri. Strategi agen tergantung pada posisi mereka diarena” (Bourdieu dan Wacquant, 1992)[5]. Maka dari inilah kenapa arena dipahami sebagai suatu arena perjuangan kekuasaan.


[1] Dalam Teori Sosiologi Modern oleh George Ritzer dan Douglas J. Goodman. Hal 582-583

[2] Bourdieu dalam Richard Jenkins. Membaca Pikiran Pierre Bourdie. hal 125

[3] Ibid., hal 583

[4] Dalam tesis Longgina Novadona Bayo, Kuasa Adat atas Gereja dan Negara di Adonara. hal 25

[5] George Ritzer dan Douglas J. Goodman, opcit., hal 584

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s